Jumat, 03 April 2009

Ciri-ciri dan Prinsip Tumbuh Kembang Manusia

Ciri-ciri Tumbuh Kembang Anak.

Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:

1. Perkembangan menimbulkan perubahan.

Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf.

2. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya.

Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya.

3. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda.

Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak.

4. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan.

Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Anak sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya.

5. Perkembangan mempunyai pola yang tetap.

Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu:

a. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah kaudal/anggota tubuh (pola sefalokaudal).

b. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).

6. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.

Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, anak mampu berdiri sebelum berjalan dan sebagainya.


Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak

Proses tumbuh kembang anak juga mempunyai prinsip-prinsip yang saling berkaitan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

1. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar.

Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki anak.

2. Pola perkembangan dapat diramalkan.

Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak. Dengan demikian perkembangan seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi berkesinambungan.

teori tumbuh kembang manusia

Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan (Growth) adalah berkaitan dangan masalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat ( gram, pound ) ukuran panjang ( cm, inchi), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Sedangkan perkembangan (Development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Perkembangan menyangkut adaanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk perkemabngan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.

Pertumbuhan dan perkembangan berjalan menurut norma-norma tertentu, walaupun demikian seorang anak dalam banyak hal tergantung kepada orang dewasa misalnya mengenai makanan, perawatan, bimbingan, perasaan aman, pencegahan penyakit. Oleh karena itu semua orang yang mendapat tugas untuk mengawasi anak harus mengerti persoalan anak yang sedang tumbuh dan berkembang.

Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh.

Pandangan mengenai Tumbuh-Kembang Manusia

1. Nativisme

Teori ini menjelaskan bagaimana manusia tumbuh karena innate (genetic) . Segala sesuatu terjadi secara sendirinya melalui maturasi (maturational process). Pandangan ini lebih mengagungkan factor alam atau nature. Manusia menjadi seseorang seperti yang ditetapkan ketika ia dilahirkan. Teori-teori dengan pandangan nativisme :

- Self Regulatory System (Curia)

Seluruh system di dalam tubuh mempunyai system yang pasti. Contohnya Peredaran darah dari jantung menuju seluruh tubuh adalah pasti.

- Self Generating Growth (Coleridge)

Adanya aturan dalam proses tumbuh seseorang. Contohnya Sebelum berbicara seorang harus mengalami proses pertumbuhan gigi.

- Self Organizing Being (Kant)

Individu adalah seseorang yang mampu menggorganisir dirinya sendiri. Contonya : Makanan akan dicerna sesuai dengan system pencernaan.

2. Environmentalisme

Teori ini menjelaskan bagaimana manusia berkembang karena proses pembelajaran (learning process) dan terjadi karena adanya stimulasi lingkungan (nurture).

Teori-teori dengan pandangan environmentalisme:

- Classical conditioning (Pavlov)

- Extreme environmental (Watson)

- Law of Effect (Thorndike)

- Operant conditioning (Skinner)

- Social Learning (Bandura)

3. Organismik

Teori ini merupakan gabungan dari teori nativisme dan environmentalisme dimana manusia tumbuh dan berkembang karena maturational dan learning process. Teori ini menganggap bahwa pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi ole nature dan nurture. Manusia menjadi seseorang sebagai hasil interaksi faktor genetic dan stimulasi lingkungan.

Jumat, 27 Maret 2009

Kerusakan pada daging

Daging merupakan bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan. Bahan pangan yang berasal dari hewan merupakan sumber utama bakteri penyebab infeksi dan intoksikasi. Mikroorganisme yang terdapat pada hewan hidup dapat terbawa ke dalam daging segar dan mungkin bertahan selama proses pengolahan. Banyak hewan-hewan yang disembelih membawa mikroorganisme seperti Salmonella dan Campylobacter, selain mikrooranisme yang secara alami terdapat pada saluran pencernaan seperti Clostridium perfringens,Escherichia coli, Yersinia entercolitica dan Listeria monocytogenes.


Ada mikroorganisme lain yang menyebabkan kerusakan pada daging sapi seperti prion yang menyebabkan penyakit degeneratif pada sistem syaraf pusat pada hewan dan manusia. Penyakit yang ditemukan pada sapi, bovine spongiform encephalopathy (BSE). Prion sangat resisten terhadap panas, lebih tahan daripada spora bakteri dan merupakan bentuk protein yang abnormal dari inang. Pencegahan penularan melalui pencegahan pemberian pakan dari bahan-bahan yang terinfeksi dan pencegahan komsumsi daging dan bagian-bagian hewan yang terinfeksi. (Luthana 2009)


Bebeapa jenis cacing juga dapat menyebabkan kerusakan pada daging. Taenia saginata (cacing pita) pada daging sapi mentah atau setengah matang yang mengandung larva sehingga dapat menyebabkan sakit perut bagian bawah, perasaan lapar, lelah. Kerusakan juga dapat disebabkan oleh Diphyllobothrium latum (cacing pita) yang menyebabkan anemia pada penderita tingkat lanjut. (Hartoko 2002)


Daging sapi (beef) adalah jaringan otot yang diperoleh dari sapi yang biasa dan umum digunakan untuk keperluan konsumsi makanan. Di setiap daerah, penggunaan daging ini berbeda-beda tergantung dari cara pengolahannya. Di Indonesia dan di berbagai negara Asia lainnya daging ini banyak digunakan untuk makanan berbumbu dan bersantan seperti sup konro dan rendang.

Daging ayam didapatkan dari ayam ternak yaitu unggas yang paling banyak diternak di dunia. Daging ayam selalu dihidangkan sebagai makanan dalam berbagai cara. Biasanya, bagian dada, kaki, paha, dan sayap., hati, jantung, dan empedu diproses menjadi makanan. Daging ayam biasanya dimasak sebelum dimakan karena daging ayam mentah mengandung salmonella. Proses pemotongan unggas secara kontinyu, meningkatkan penularan mikroorganisme dari karkas yang satu ke yang lainnya. Demikian juga penggilingan daging dalampembuatan daging cincang dapat menyebarkan mikroorganisme, sehingga daging cincang merupakan produk daging yang beresiko tinggi.

Kerusakan Bahan Makanan

Bahan makanan secara alami akan mengalami kerusakan, hanya ketahanannya berbeda-beda tergantung jenis makanannya. Proses kerusakan diawali dengan penurunan kualitas dan diakhiri dengan pembusukan. Proses kerusakan tersebut lebih dominan disebabkan oleh aktivitas fisik dan kimiawi, sedangkan proses pembusukan lebih didominasi oleh kegiatan kimiawi dan mikrobiologis. Kegiatan kimiawi selama proses pembusukan ditandai dengan proses oksidasi yang menyebabkan ketengikan (rancidity) dan perubahan warna (browning). (anonym, 2009)


Selain itu proses pembusukan dapat dilihat dari aktivitas enzim yang merombak komponen bahan pangan hingga terbentuk senyawa yang aromanya tidak disukai. Enzim yang berperan dalam proses perombakan selama pembusukan dapat berasal dari bahan pangan atau mikroba yang tumbuh dalam bahan pangan tersebut. Makin banyak populasi mikroba makin banyak pula jenis dan jumlah enzim yang berperan dalam proses perombakan. (anonym 2009)


Dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam rumah tangga,sering terjadi kebiasaan menyimpan makanan dalam jumlah yang besar untuk periode tertentu tanpa memperhatikan keawetan dari bahan pangan tersebut. Akibatnya banyak makanan busuk dan terbuang karena tidak sempat diolah dan dikonsumsi.


Bahan pangan sebelum dipanen dan ditangani manusia sifatnya relatif steril, karena mempunyai pelindung yang bersifat alami. Namun dalam proses setelah panen yaitu distribusi, pengolahan, pengepakan, penjualan hingga diterima dan dikonsumsi oleh konsumen memungkinkan suatu bahan pangan untuk terkontaminasi. Banyak faktor yang menyebabkan suatu bahan makanan terkontaminasi, diantaranya yaitu mikroorganisme, bahan-bahan kimia, enzim, hama (serangga, parasit, dan binatang mengerat), suhu, air, udara, cahaya atau sinar dan waktu penyimpanan.


Produk pangan harus tetap dijaga kualitasnya selama penyimpanan dan distribusi, karena pada tahap ini produk pangan sangat rentan terhadap rekontaminasi, terutama dari mikroba pathogen yang berbahaya bagi tubuh dan mikroba perusak yang dapat menyebabkan kerusakan pada bahan pangan. (Rahayu 2000)


Dengan demikian, makanan busuk banyak mengandung mikroba yang dapat menjadi sumber penyebab penyakit. Selain mengandung mikroba, bahan makanan yang busuk juga mengandung senyawa beracun yang dihasilkan oleh mikroba. Makanan yang demikian, sekalipun dikonsumsi dalam jumlah kecil sudah dapat menimbulkan keracunan. Banyaknya kasus keracunan makanan yang terjadi dimasyarakat saat ini dikarenakan kurangnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang bagaimana cara mengidentifikasikan bahan pangan.


Kerusakan bahan pangan dapat diperlambat melalui proses pengolahan. Ada dua hal penting yang dipertimbangkan mengapa pengolahan pangan perlu dilakukan. Yang pertama adalah untuk mendapatkan bahan pangan yang aman untuk dimakan sehingga nilai gizi yang dikandung bahan pangan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal. Yang kedua adalah agar bahan pangan tersebut dapat diterima, khususnya diterima secara sensori, yang meliputi penampakan (aroma, rasa, mouthfeel, aftertaste) dan tekstur (kekerasan, kelembutan, konsistensi, kekenyalan, kerenyahan). (Apriyantono 2002)